The Power, Life and her Story
Disclaimers : Percy Jackson punya Mr.Rick Riordan
Rated : T
Pairing : PercAbeth
Warning : Gaje, banyak typo, cerita absurd, dan lain-lain
By : Runa Blugreeyama
Kisah Percy Jackson, son of Poseidon. Yang terkadang merasa
gundah dengan kekuatannya sendiri, merasa terabaikan oleh ayahnya, dan
terkadang sering bertengkar dengan kedua sepupunya. Bagaimanapun ia masih
remaja, emosinya masih labil dan sulit untuk dikendalikan. Dan kalian tahu apa
yang akan di akibatkan kalau anak dari 3 dewa terkuat itu tidak bisa
mengendalikan emosinya?
Ia bisa saja melukai siapapun..
.
Danau kano.
Tempat ke-2 yang menjadi
favorite nya ketika berada di Camp Half-Blood, tentu saja yang pertama
adalah Cabin Poseidon. Di tempat ini biasanya ia sering bercerita tentang apa
saja yang ia alami kepada ayahnya, meskipun ia tidak yakin jika ayahnya akan
mendengarkan. Percy tahu, ayahnya adalah seorang dewa laut yang sangat sibuk
tapi apakah tidak ada waktu selama semenit sehari untuk sekedar mengobrol
dengannya?
Ah, tentu saja tidak.
“Percy!”
Percy sedikit tersentak, ia langsung
menoleh. Grover, sahabat baiknya tengah berlari kearahnya dengan tergesa-gesa.
“Kau harus tahu! Thalia.. Nico..” Ucapnya tidak jelas. Pundaknya naik-turun
dengan cepat.
“Okay. Calm down,
Grover. Ada apa dengan Thalia dan Nico?” Percy bangkit dari duduknya dan
menatap Grover yang tengah mengambil nafas dengan intens. Berita tentang kedua
sepupunya itu selalu menjadi topik yang selalu ia khawatirkan. Karena hal
sepele selalu menjadi hal yang besar ketika mereka bertengkar.
“Mereka bertengkar!” Grover nyaris
berteriak, wajah ovalnya terlihat khawatir dan menurut Percy ekspresi khawatir
itu sedikit berlebihan.
“Bertengkar? Lagi?” Percy mengulang
dan dibalas anggukan mantap dari Grover.
“Kau harus cepat menengahi mereka,
Percy! Thalia bisa saja menyambar Nico dengan petir!”
Percy menaikkan sebelah alisnya,
heran. “Lalu, ketika aku menengahi mereka aku akan terkena sambaran petir
Thalia dan dikerubungi hantu-hantu panggilan Nico?”
Karena menurut pengalaman Percy,
kejadian yang hampir sama selalu terjadi. Percy berusaha menengahi, Percy pula
yang terkena imbasnya.
Grover terlihat bingung saat itu
juga. Yah, mungkin memanggil Percy untuk menengahi Thalia dan Nico yang sedang
bertengkar bukanlah ide yang bagus. Mereka bisa membuat masalah semakin besar
lagi jika digabungkan. “Tapi, hanya kau yang bisa menghentikan mereka.” Ucap
Grover sedikit tidak yakin.
“Ayolah, Perce..” Grover mendorong
Percy. “Mereka berada di tempat latihan pedang.”
Percy pun mulai berjalan cepat.
Semakin mendekati arena latihan pedang, awan hitam tebal mulai menghiasi langit
diatasnya. Beberapa kali suara gemuruh petir terdengar. Percy sedikit merasa
heran, kenapa ia tidak mendengar kericuhan ini sedikitpun saat didanau kano.
Suasana disana pun terasa dingin menusuk yang membuat tubuhnya terasa
merinding. Tak jauh dari tempatnya
berdiri, Thalia dan Nico tengah berhadapan. Kedua tangan mereka terkepal dengan
erat. Mata mereka menyorot tajam satu sama lain.
“Oh my God! Mereka terlihat
seperti akan melawan Kronos saat ini.” Gumam Percy.
Beberapa anak Ares mulai bersiap
dengan beberapa pedang mereka, meski sebenarnya mereka tahu pedang itu tidak
akan berpengaruh besar untuk masalah kali ini. Annabeth terlihat cemas,
beberapa kali ia memanggil Thalia dan mencoba menghentikan kemarahan Thalia.
“Hey.. Hey.. Apa masalah kalian kali
ini? Bisakah kalian meredam emosi kalian?” Ternyata Percy benar-benar menengahi
mereka. Ia datang dan langsung mengambil tempat diantara Thalia dan Nico.
“Dia harus diberi pelajaran, Otak
ganggang!” Ketus Thalia. Tanggapannya cukup bagus, karena setidaknya ucapan
Percy didengar oleh Thalia.
“Hey.. Berhenti memanggilku otak
ganggang, muka pinus!” Percy mulai serius, namun ia menghela nafas berat. “Aku tidak berniat mencari masalah denganmu,
Thalia.”
“Thalia memang selalu mencari
masalah dengan siapapun, Percy.” Ucap Nico santai.
Blarr..
Petir kembali menyambar sebuah pohon
dibelakang Nico. Membuat beberapa blasteran terpekik kaget.
“Oh ayolah.. Dimana mr.D
dan pak Chiron?!” Geram Annabeth. Ia keluar dari kerumunan dan berjalan cepat
entah menuju kemana.
“Diam kau, Nico!” Bentak Thalia.
“Thalia, berhenti membuat petir. Kau
bisa membunuh Nico dan yang lain..” Ucap Percy jengah.
“Kau jangan ikut campur, Percy! Aku
tidak butuh bantuanmu! Kau ingat? Kau telah membuat Bianca terbunuh.” Nico
menyela.
“Hah? Apa kau bilang? Bukankah
Bianca sudah memberitahumu kalau dia meninggal bukan karena aku? Kenapa kau
mengungkit masalah ini lagi sih?”
Emosi Percy mulai terpancing,
masalah yang diungkit-ungkit Nico selalu membuatnya emosi. Harus Percy akui
juga, ia merasa bersalah atas kematian Bianca. Tapi sudah berapa kali Percy
bilang ia tidak bersalah, dan bahkan ia sudah membujuk Bianca agar tidak
mengorbankan dirinya. Nico memang menitipkan Bianca padanya sebelum Percy
menjalani misi, dan Percy yakin ia sudah menjaga Bianca meskipun akhirnya
Bianca meninggal.
“Bianca meninggal karena
keputusannya sendiri, Nico. Itu bukan salah Percy.” Teriak Grover.
Percy tersenyum penuh kemenangan.
“Kau dengar?” Ucap percy.
Krakk...
Tanah disekitar Percy terpecah,
muncul beberapa tangan transparan menggapai-gapai seperti mencari ‘sesuatu’
untuk ditarik kebawah tanah bersama mereka. Percy berusaha menjauh, namun salah
satu tangan arwah itu berhasil memegang kaki kiri Percy dengan erat.
“Woaa..”
Percy ingin teriak, tapi seseorang
telah mendahuluinya. Percy menoleh, ternyata Thalia terlah terduduk dan
dikelilingi beberapa arwah yang berhasil keluar dari dalam tanah. Gemuruh petir
kembali terdengar dan kali ini serangan petir Thalia tidak terarah.
“Thalia...” Percy terpekik. Matanya menatap ngeri pada hantu yang
memegang kakinya dan hantu-hantu yang mengerubungi Thalia.
“Hantu-hantu ini berusaha
membunuhku!” Teriak Thalia. Hnatu-hantu itu berusaha menyentuh Thalia, entah
bagaimana meskipun mereka transparan tapi ‘sentuhan’ mereka terasa nyata dan
membuat siapapun yang terkena ‘sentuhan’ itu merasakan ketakutan yang
berlebihan.
Blarr..
Para pekemah mulai khawatir,
terlebih anak-anak Aphrodite yang terus berteriak. Percy berusaha
mengkonsentrasikan dirinya pada air danau kano. Percy tidak begitu yakin dia
akan bisa mengendalikan air danau kano, karena jarak yang cukup jauh. Tapi, apa
salahnya mencoba kan?
Wesss... Blarr..
“Ugh..”
Bruk..
Kini petir Thalia menyambar tepat
didekat kakinya, membuat Percy terpental hingga menabrak pohon dan membuat
pegangan hantu itu terlepas dari tubuhnya. Beruntung bagi Percy, petir itu
tidak secara langsung menyambarnya. Tapi tetap saja sambaran petir itu
membuatnya linglung dan tubuhnya terasa lumpuh seketika. Konsentrasinya buyar.
Matanya yang memburam, namun masih
terlihat jelas Nico yang masih berdiri tegak dan Thalia yang masih dikerubungi
arwah-arwah.
Apapun..
Siapapun..
Bisakah menghentikan ini semua?
Percy mengalihkan pandangannya, para
pekemah semakin menjaga jarak dan berlari sejauh mungkin dari arena pedang itu.
Percy khawatir..
“Ayolah..” Ia kembali mencoba
mengumpulkan konsentrasinya. Tubuhnya masih bersender pada batang pohon dan
tangan kanannya sedikit terangkat kearah danau kano. Semakin lama perutnya
semakin terasa bergejolak. “Come on!”
Wuusssss...
Berkubik-kubik air datang.
Selayaknya air sungai diatas langit, air itu mengalir dari danau kano ke tempat
latihan pedang dan berkumpul membentuk sebuah bola air yang besar. Tanpa fikir
panjang Percy memerintahkan setengah air itu untuk turun menjatuhi Nico dan
Thalia.
Nico terdiam, bahkan ia tidak
bergerak sedikitpun. “Apa-apaan kau Percy?!” Geramnya.
Byuuurrrrr...
Nico dan Thalia gelagapan didalam
air, setengah air yang tumpah itu kembali menjadi satu sembari membawa Nico dan
Thalia didalamnya. Sementara Percy, kesadarannya semakin terancam. Tangan
kanannya hampir terkulai, tapi berkubik-kubik air itu akan membanjiri Camp jika
ia tidak mengembalikannya ke danau kano.
Gemuruh petir Thalia sudah tidak
terdengar, tanah yang terpecahpun kembali menutup dan hantu-hantupun
menghilang. Mungkin Nico dan Thalia sudah kehabisan nafas di dalam bola air
raksasa itu. Percy menghela nafas. Ia kembali memerintahkan air-air itu untuk
kembali dan menurunkan Nico dan Thalia, perutnya kembali bergejolak membuatnya
mengerenyit.
Bessstt...
Sulur-sulur anggur melilit Percy,
Nico dan Thalia dengan tiba-tiba. Membuat Nico dan Thalia yang tengah tak
sadarkan diri terkulai dengan pakaian yang masih meneteskan bulir-bulir air.
"Mr.D.." Gumam
Percy.
"Ternyata
kau lagi, Potter Johnson!" Teriaknya dari jauh.
Ah, sepertinya Percy akan disalahkan
lagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar